Langsung ke konten utama

What is Love (3)

PART 4 

Pada saat aku menginjak kelas XII, aku berpacaran dengan teman sekelasku. Lelaki itu adalah mantan pacar sahabatku... Lah kok bisa ??

Jadi begini ceritanya...

Sebut saja dia Kabayan (nama samaran). Kabayan ini berpacaran dengan sahabatku sebelum putus dikarenakan sahabatku selingkuh dengan lelaki lain dari sekolah lain. Setelah cukup lama mereka putus, si Kabayan ini mendekatiku dan aku pun akhirnya menyukainya dan memutuskan untuk berpacaran dengannya.

Bahkan ketika masih masa pendekatan pun, sahabatku marah besar dan memusuhiku. Dia tidak terima Kabayan dekat dan berpacaran denganku. Namun aku selalu berpikir, bahwa perpisahan kalian bukanlah kesalahanku. Kenapa aku yang harus menerima amarah dan amukanmu? Jika kamu masih mencintainya lantas kenapa kamu terang-terangan berselingkuh dan akhirnya lebih memilih lelaki lain? Aku, tak mengerti.

Di antara semua pacarku, Kabayan ini adalah pacar terlamaku, yah walau putus nyambung putus nyambung. Aku itu pencemburu. Pada saat aku dan Kabayan berpacaran, seringkali aku harus menahan diri dari menunjukkan kecemburuanku karena dia selalu dekat dengan teman-teman perempuannya.

Dia memang akrab dengan semua orang, bahkan dia akrab dan dekat sekali dengan teman-teman perempuannya. Terkadang aku menyampaikan keluh kesahku kepadanya agar dia mengurangi interaksi dengan perempuan lain secara berlebihan. Seminimalnya tolonglah jaga perasaanku saat kami dalam satu ruangan atau satu kegiatan. Tolonglah hargai aku sebagai kekasihmu, dengan tidak terus menerus membuatku sakit hati.

Di saat aku merasa berjuang sendirian di dalam hubungan kita, ada seseorang yang hadir memberikan perhatian dan kepedulian yang aku dambakan. Aku merasa dicintai olehnya.

Dia selalu ada untukku. Dia memberiku coklat di hari ulang tahunku. Dia rela membeli dan mengantarkan gorengan tengah malam untukku karena aku kelaparan dan sedang tidak ada makanan di rumah. Dan dia benar-benar hanya mengantarkan makanan itu lalu pulang kembali. Aku tersentuh dengan perjuangannya. Dia mendambakanku seolah aku ini seseorang yang sangat berharga dan aku merasa dicintai sepenuhnya.

Namun, yang kucinta itu kamu, bukan dia. Namun rupanya kamu sulit sekali untuk berubah. Dan aku lelah merasa berjuang sendirian. Dan aku bersyukur selalu memberikan yang terbaik bagi hubungan kita sehingga tiada penyesalan tertinggal setelah perpisahan kita.

--------------------------------------------------------------------------------------

PART 5

Setelah cukup lama aku putus dari Kabayan, lelaki itu masih berusaha hadir di setiap hariku. Aku masih ingat sekali saat itu aku di akhir sekolah hendak kuliah (2012) akhirnya jadian dengannya (Balon).

Tetapi hanya bertahan satu minggu. Aku merasa bersalah kepadanya karena aku terlalu sensitif ketika dia mengirim sesuatu di wall facebookku yang menurutku kurang sopan. Perasaanku seketika menguap kepadanya. Aku tidak tahu. Sungguh kejadian itu cepat sekali. Aku marah kepadanya dan mengakhiri hubungan yang baru berjalan sebentar itu.

Aku sangat tidak suka dengan orang yang berkata-kata agak kasar bahkan kasar. Aku benci. Membuatku ilfeel.

Maafkan aku yaa, Balon sebegitu jahatnya aku kepadamu. Dan terima kasih yaa, Balon telah memberikan segenap cinta dan ketulusan yang selalu aku impikan.

--------------------------------------------------------------------------------------

Setelah aku kuliah aku tidak berpacaran lagi dengan siapapun. Dan pada tahun 2015 alhamdulillah aku hijrah dan memutuskan untuk tidak berpacaran lagi kecuali berpacaran setelah menikah. InsyaaAllah akan diceritakan di chapter berikutnya.. Bye..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ideologi Organisasi Pergerakan Pada Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942)

Pendahuluan             Pergerakan nasional di Indonesia bermula pada sekitar tahun 1900 sampai tahun 1942. Banyak faktor yang menyebabkan terlahirnya pergerakan nasional. Secara garis besar, pergerakan nasional merupakan refleksi atas kebijakan-kebijakan yang keluar di Belanda berkat beberapa kecaman seperti yang dilontarkan oleh Douwes Dekker dalam novel Max Havelaar nya maupun oleh Theodore van Deventer dalam artikel “ Een Eereschuld ”nya. Kebijakan-kebijakan tersebut berupa politik etis dengan tiga poin utama yang akan diterapkan di wilayah jajahan Hindia Belanda, yaitu pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Ditambah dengan kemenangan kaum liberalis di parlemen Belanda, yang akan turut serta mempengaruhi kehidupan di Hindia Belanda. Pergerakan nasional itu sendiri digagas oleh para kaum intelektual dan kaum priyayi baru. Menurut Sartono Kartodirdjo, apa yang disebut dengan kaum intelektual atau kaum priyayi di atas adala...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Mencari Jawaban

Cerita Sebelumnya Di saat percakapan tentang pernikahan itu terus berlanjut. Ada gejolak di hati. Yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Rasa takut. Aku ketakutan. Setelah kunjungan dia ke rumahku malam itu, perasaan takut mulai muncul dalam hatiku dan semakin hari rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang aku takuti? Sungguh sangat membingungkan, tapi kenyataannya perasaan takut itu nyata bercokol di dalam dada. Apakah aku takut kepada laki-laki? Tidak. Selama ini aku berinteraksi dengan banyak laki-laki, dengan anggota keluargaku, dengan rekan kerja di tempatku bekerja, dengan tetangga, dengan bapak-bapak pedagang jalanan, dengan aa aa di pom bensin, dengan teman-teman di komunitas. Aku oke. Apakah aku takut karena pernah disakiti hatinya oleh laki-laki? Tidak juga. Patah hati itu hal biasa, bahkan aku masih senormal-normalnya wanita yang menyukai laki-laki, walau perasaan sudah jungkir balik berkali-kali. Pun tidak pernah disakiti fisikku oleh lak...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Ta'aruf Pertama

Cerita ini dimulai saat aku sedang bergabung dengan salah satu komunitas agama di kota tempatku berada. FYI, di komunitas tersebut ada ketua, wakil ketua, ketua divisi, dan anggota divisi. Aku adalah anggota divisi Media Informasi yang tugasnya membuat desain poster kajian, mendokumentasikan kegiatan, dan ikut membantu apapun yang bisa dikerjakan di komunitas. Suatu hari, dua sahabatku bertanya dengan ekspresi dan nada serius, "Teteh udah siap nikah belum?". Saat itu aku menjawab, "InsyaaAllah siap, Ma". Kemudian dia mengutarakan maksud pembicaraannya bahwa ada seseorang yang mau mencoba ta'aruf denganku, anggota komunitas, ungkapnya. Setelah ditelisik, " Ooh ternyata diaa " batinku, " Ketua divisiku sendiri wkwkwk ". Kudengar bahwa lelaki ini sedang mencari calon istri. Awalnya dia mencari ke sana kemari namun masih bingung mau coba ta'aruf dengan siapa, oleh temannya disarankan lah kenapa jauh-jauh mencari ke sana kemari, coba aja dulu ...