Langsung ke konten utama

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Mencari Jawaban

Cerita Sebelumnya

Di saat percakapan tentang pernikahan itu terus berlanjut. Ada gejolak di hati. Yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Rasa takut. Aku ketakutan.


Setelah kunjungan dia ke rumahku malam itu, perasaan takut mulai muncul dalam hatiku dan semakin hari rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang aku takuti? Sungguh sangat membingungkan, tapi kenyataannya perasaan takut itu nyata bercokol di dalam dada.

Apakah aku takut kepada laki-laki? Tidak. Selama ini aku berinteraksi dengan banyak laki-laki, dengan anggota keluargaku, dengan rekan kerja di tempatku bekerja, dengan tetangga, dengan bapak-bapak pedagang jalanan, dengan aa aa di pom bensin, dengan teman-teman di komunitas. Aku oke.

Apakah aku takut karena pernah disakiti hatinya oleh laki-laki? Tidak juga. Patah hati itu hal biasa, bahkan aku masih senormal-normalnya wanita yang menyukai laki-laki, walau perasaan sudah jungkir balik berkali-kali. Pun tidak pernah disakiti fisikku oleh laki-laki manapun yang pernah kutemui sehingga trauma membekas pada diri.

Lalu,

Ada apa dengan diriku?

Percakapan-percakapan perkara pernikahan ini harusnya membuatku bahagia dan bersuka cita. Namun semakin lelaki itu mendekat masuk ke dalam kehidupanku, semakin aku takut kepadanya.

"Ma, gimana ya? Kenapa semakin deket, semakin besar dia terlibat dalam kehidupan aku, semakin aku takut sama si akang. Tapi bukan aku takut sama laki-laki, aku normal kok. Aku juga beneran niat ta'aruf, aku juga ga main-main mau nikah tapi emang betulan karena aku ngerasa siap. Tapi kenapa jadi takut ya?" ceritaku pada sahabat saat itu dengan putus asa.

Sahabatku menyarankan supaya aku meruqyah diri sendiri, mungkin barangkali ada gangguan jin. Jin jahat kan memang sukanya menghalangi-halangi manusia untuk menikah, membuat manusia terus ragu terhadap calon pasangannya sehingga mereka gagal menikah.

"Oh iya yaa ga kepikiran ke situ, bisa jadi ketakutanku selama ini karena gangguan jin.." batinku penuh harap bahwa mungkin ada jalan untuk menyembuhkan ketakutan yang kupikir tak berdasar ini kepadanya.

Siang hari itu di tempat kerja, di saat semua pekerjaan telah selesai dilakukan, aku mulai mencari kajian tentang cara meruqyah diri sendiri secara syar'i. Kuarahkan jariku untuk mengklik video Ustadz Khalid Basalamah di YouTube. Kutulis langkah-langkah dan hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan ruqyah pada selembar kertas. Lalu kupraktekkan saat itu juga.

Alhamdulillah sejak ruqyah pertama dilakukan hingga beberapa hari kemudian aku merasa lebih baik. Rasa takut yang menggerogoti hati perlahan mulai berkurang lalu menghilang. Aku bisa kembali membicarakan rencana kelanjutan ta'aruf kami dengan hati yang lapang dan suka cita lagi. Kuceritakan pula kelegaanku pada sahabatku bahwa ruqyah itu nampaknya berhasil. Dan tentu sahabatku senang mendengarnya.

Namun, hati yang lapang dan suka cita itu sedikit demi sedikit menjadi keruh kembali. Hingga di satu titik aku begitu frustasi.
Dalam sujud shalat istikharah tangisanku menjadi-jadi.
"Ya Allah, atas perasaan yang bahkan aku sendiripun tidak mengerti, aku yakin Engkau lebih mengetahui. Ya Allah tidak ada yang lebih memahami niatku selain Engkau, bahwa aku serius ingin menikah. Tapi kenapa aku begitu ketakutan menghadapi semua proses menuju pernikahan ini. Tolong aku, aku harus bagaimana ya Allah. Pintaku, jika dia baik untukku maka tanamkan perasaan tenang, damai, dan tumbuhkan cinta di hatiku. Namun jika dia tidak baik untukku, maka selesaikanlah kami dengan cara yang baik, ya Rabb."


Pada akhirnya aku memilih untuk mengakhiri semuanya.
Kukirimkan sebuah pesan di dalam grup kami bertiga. Dengan gugup, gemetaran, aku langsung meninggalkan grup WhatsApp ta'aruf kami.
Dia kecewa karena aku mengakhirinya begitu saja dan meninggalkan grup tanpa menunggu respon darinya. Setelah itu aku sadar, perpisahan yang aku lakukan memang kurang baik untuk semua orang, baik dia maupun gurunya. Maaf dan terima kasih. Tak sempat kuucapkan, namun sungguh aku menyesal mengakhirinya dengan cara seperti itu, dan terima kasih karena sudah berkenan menjalankan proses ta'aruf kita dengan baik sampai akhir. 


Epilog

Bahkan setelah beberapa tahun berlalu, aku masih belum mendapatkan jawaban atas kejadian waktu itu. Apakah memang benar aku belum siap menikah, atau mungkin ada bagian dari diriku yang belum sembuh dan aku belum menemukan apa bagian yang harus diperbaiki itu, atau memang aku belum lulus ujian menuju pernikahan. Sebagaimana cerita teman-temanku yang sudah menikah, begitu hebatnya ujian sebelum pernikahan. Dan pada kesempatan itu aku telah gagal melewatinya. Wallahu 'alam.


*PS: Blog cerita tentang taaruf ini bukan berarti aku masih teringat akan orang yang aku mention di sini. Hanya saja aku selalu berpikir beberapa pengalaman yang menurutku memberi banyak pelajaran, jika tidak dituliskan suatu saat akan terlupakan, entah karena lupa, usia, atau karena hal lainnya. Dengan menulis aku bisa menyelami kembali kisah yang pernah kualami dan mendalami perasaan-perasaan yang pernah aku miliki seperti hal tersebut baru terjadi kemarin. Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kisahku dan terima kasih atas pengertian pembaca sekalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ideologi Organisasi Pergerakan Pada Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942)

Pendahuluan             Pergerakan nasional di Indonesia bermula pada sekitar tahun 1900 sampai tahun 1942. Banyak faktor yang menyebabkan terlahirnya pergerakan nasional. Secara garis besar, pergerakan nasional merupakan refleksi atas kebijakan-kebijakan yang keluar di Belanda berkat beberapa kecaman seperti yang dilontarkan oleh Douwes Dekker dalam novel Max Havelaar nya maupun oleh Theodore van Deventer dalam artikel “ Een Eereschuld ”nya. Kebijakan-kebijakan tersebut berupa politik etis dengan tiga poin utama yang akan diterapkan di wilayah jajahan Hindia Belanda, yaitu pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Ditambah dengan kemenangan kaum liberalis di parlemen Belanda, yang akan turut serta mempengaruhi kehidupan di Hindia Belanda. Pergerakan nasional itu sendiri digagas oleh para kaum intelektual dan kaum priyayi baru. Menurut Sartono Kartodirdjo, apa yang disebut dengan kaum intelektual atau kaum priyayi di atas adala...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Ta'aruf Pertama

Cerita ini dimulai saat aku sedang bergabung dengan salah satu komunitas agama di kota tempatku berada. FYI, di komunitas tersebut ada ketua, wakil ketua, ketua divisi, dan anggota divisi. Aku adalah anggota divisi Media Informasi yang tugasnya membuat desain poster kajian, mendokumentasikan kegiatan, dan ikut membantu apapun yang bisa dikerjakan di komunitas. Suatu hari, dua sahabatku bertanya dengan ekspresi dan nada serius, "Teteh udah siap nikah belum?". Saat itu aku menjawab, "InsyaaAllah siap, Ma". Kemudian dia mengutarakan maksud pembicaraannya bahwa ada seseorang yang mau mencoba ta'aruf denganku, anggota komunitas, ungkapnya. Setelah ditelisik, " Ooh ternyata diaa " batinku, " Ketua divisiku sendiri wkwkwk ". Kudengar bahwa lelaki ini sedang mencari calon istri. Awalnya dia mencari ke sana kemari namun masih bingung mau coba ta'aruf dengan siapa, oleh temannya disarankan lah kenapa jauh-jauh mencari ke sana kemari, coba aja dulu ...