Langsung ke konten utama

PaHe KKN: Awal Mula Sebuah Pertemuan

Tanggal Penulisan: 24 Mei 2015

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Semoga keselamatan tercurah atas kamu, dan rahmat Allah (tercurah atas kamu) dan berkah Allah (tercurah atas kamu juga).

Saya merupakan salah satu mahasiswa Unpad yang sedang mempersiapkan diri menghadapi KKN (Kuliah Kerja Nyata). Beberapa waktu yang lalu, saya telah melakukan pengambilan sks KKN, pendaftaran online dan plotting tempat KKN.
Saya memilih Desa Rawa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis sebagai tempat KKN.
Bersama dengan 20 orang lainnya, kemarin tanggal 23 Mei 2015 kami menghadiri pembekalan KKN di Gedung II, Lantai 2, Ruang 3, Fapet, Unpad, Jatinangor.


Pembekalan dimulai dari pukul 08.00 s.d. 10.00. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan koordinator desa dan serba-serbi persiapan KKN di halaman teras Gedung II, Fapet, dari pukul 10.00 s.d. 11.00 dan kemudian diakhiri dengan foto bersama.


Teman pertama yang kukenal yaitu Helmi (pegang buku kuning di jajaran atas) dan Firda (sebelah Helmi, memakai baju warna merah). Meskipun tidak langsung akrab, alhamdulillah, minimal ada yang aku kenal nama dan wajahnya. Sedangkan koordinator desanya memakai kemeja kotak-kotak warna merah dan putih yang berdiri di jajaran atas. Wakil koordinator desanya di sebelah Firda (paling ujung). Sekretaris dan wakilnya lupa yang mana. Bendaharanya perempuan yang di bawah koordinator desa. Wakilnya entah yang mana.

Tidak ada yang berkesan selama pembekalan KKN. Begitulah, hehe :D
Ya, cukup sekian dan terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ideologi Organisasi Pergerakan Pada Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942)

Pendahuluan             Pergerakan nasional di Indonesia bermula pada sekitar tahun 1900 sampai tahun 1942. Banyak faktor yang menyebabkan terlahirnya pergerakan nasional. Secara garis besar, pergerakan nasional merupakan refleksi atas kebijakan-kebijakan yang keluar di Belanda berkat beberapa kecaman seperti yang dilontarkan oleh Douwes Dekker dalam novel Max Havelaar nya maupun oleh Theodore van Deventer dalam artikel “ Een Eereschuld ”nya. Kebijakan-kebijakan tersebut berupa politik etis dengan tiga poin utama yang akan diterapkan di wilayah jajahan Hindia Belanda, yaitu pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Ditambah dengan kemenangan kaum liberalis di parlemen Belanda, yang akan turut serta mempengaruhi kehidupan di Hindia Belanda. Pergerakan nasional itu sendiri digagas oleh para kaum intelektual dan kaum priyayi baru. Menurut Sartono Kartodirdjo, apa yang disebut dengan kaum intelektual atau kaum priyayi di atas adala...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Mencari Jawaban

Cerita Sebelumnya Di saat percakapan tentang pernikahan itu terus berlanjut. Ada gejolak di hati. Yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Rasa takut. Aku ketakutan. Setelah kunjungan dia ke rumahku malam itu, perasaan takut mulai muncul dalam hatiku dan semakin hari rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang aku takuti? Sungguh sangat membingungkan, tapi kenyataannya perasaan takut itu nyata bercokol di dalam dada. Apakah aku takut kepada laki-laki? Tidak. Selama ini aku berinteraksi dengan banyak laki-laki, dengan anggota keluargaku, dengan rekan kerja di tempatku bekerja, dengan tetangga, dengan bapak-bapak pedagang jalanan, dengan aa aa di pom bensin, dengan teman-teman di komunitas. Aku oke. Apakah aku takut karena pernah disakiti hatinya oleh laki-laki? Tidak juga. Patah hati itu hal biasa, bahkan aku masih senormal-normalnya wanita yang menyukai laki-laki, walau perasaan sudah jungkir balik berkali-kali. Pun tidak pernah disakiti fisikku oleh lak...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Ta'aruf Pertama

Cerita ini dimulai saat aku sedang bergabung dengan salah satu komunitas agama di kota tempatku berada. FYI, di komunitas tersebut ada ketua, wakil ketua, ketua divisi, dan anggota divisi. Aku adalah anggota divisi Media Informasi yang tugasnya membuat desain poster kajian, mendokumentasikan kegiatan, dan ikut membantu apapun yang bisa dikerjakan di komunitas. Suatu hari, dua sahabatku bertanya dengan ekspresi dan nada serius, "Teteh udah siap nikah belum?". Saat itu aku menjawab, "InsyaaAllah siap, Ma". Kemudian dia mengutarakan maksud pembicaraannya bahwa ada seseorang yang mau mencoba ta'aruf denganku, anggota komunitas, ungkapnya. Setelah ditelisik, " Ooh ternyata diaa " batinku, " Ketua divisiku sendiri wkwkwk ". Kudengar bahwa lelaki ini sedang mencari calon istri. Awalnya dia mencari ke sana kemari namun masih bingung mau coba ta'aruf dengan siapa, oleh temannya disarankan lah kenapa jauh-jauh mencari ke sana kemari, coba aja dulu ...