Cerita ini dimulai saat aku sedang bergabung dengan salah satu komunitas agama di kota tempatku berada. FYI, di komunitas tersebut ada ketua, wakil ketua, ketua divisi, dan anggota divisi. Aku adalah anggota divisi Media Informasi yang tugasnya membuat desain poster kajian, mendokumentasikan kegiatan, dan ikut membantu apapun yang bisa dikerjakan di komunitas.
Suatu hari, dua sahabatku bertanya dengan ekspresi dan nada serius, "Teteh udah siap nikah belum?". Saat itu aku menjawab, "InsyaaAllah siap, Ma". Kemudian dia mengutarakan maksud pembicaraannya bahwa ada seseorang yang mau mencoba ta'aruf denganku, anggota komunitas, ungkapnya.
Setelah ditelisik, "Ooh ternyata diaa" batinku, "Ketua divisiku sendiri wkwkwk". Kudengar bahwa lelaki ini sedang mencari calon istri. Awalnya dia mencari ke sana kemari namun masih bingung mau coba ta'aruf dengan siapa, oleh temannya disarankan lah kenapa jauh-jauh mencari ke sana kemari, coba aja dulu dengan kenalan yang ada di komunitas. Begitulah ceritanya sampai pada titik dia memutuskan untuk mencoba ta'aruf denganku.
Sungguh, lelaki ini, aku tidak pernah memperhatikan dia. Sebatas aku tahu bahwa dia ketua divisiku, dia yang selalu berkomunikasi denganku perkara pekerjaan desain. Tidak pernah terpikir aku melihatnya dengan cara yang lain.
Dia lebih tua 3 tahun dariku, kurasa selisih usianya pas sekali. Dia memiliki kesamaan passion denganku, yaitu desain grafis. Jika diperhitungkan dari segi sekufu atau tidak sekufu, kupikir kami sudah berada pada tingkatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.
Sahabatku selalu mengatakan bahwa aku sangat cocok dengannya, karena kami mirip sekali. Dari segi fisik mirip tinggi berisi, dari segi hobi mirip hobi desain grafis pokoknya apapun yang berhubungan dengan media kami suka, dari segi pendidikan kami setara, dari segi agama kelihatannya juga begitu. Suatu saat ketika akhwat-akhwat di komunitas berkumpul, teman yang lain pun tiba-tiba mengatakan bahwa aku cocok dengan dia.
Aku pun memutuskan mencoba berta'aruf dengannya, bismillah.
Dimulai dengan pertukaran CV (Curriculum Vitae) alias biodata diri. Dari biodata diri tersebut aku mengenalnya lebih dekat. Dan dia mengenalku lebih dekat. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan proses ta'aruf ke langkah berikutnya, yaitu mencari murobbi sebagai perantara komunikasi agar tidak terjadi khalwat dan hal-hal yang tidak diperbolehkan. Kalau tidak salah ingat, murobbi tersebut adalah ustadz di tempat dia mengaji.
Grup WhatsApp pun dibuat, berisikan aku, dia, dan sang murobbi. Grup tersebut berfungsi sebagai wadah tanya jawab akan hal-hal yang ingin ditelusuri lebih lanjut oleh kedua belah pihak. Serta digunakan sebagai wadah komunikasi untuk menentukan langkah selanjutnya dalam proses ta'aruf.
Kamipun bersepakat untuk melakukan nadzar di sebuah tempat makan. Dia akan datang bersama sang murobbi dan menitipkan pesan agar aku datang bersama salah satu anggota keluarga. Jujur, aku bingung. Bingung karena tidak ada anggota keluarga yang dekat denganku. Pun, aku canggung. Canggung karena aku tidak banyak berkomunikasi dengan keluargaku, terutama menyangkut hal-hal sensitif seperti ini, aku tidak berani bilang, "Aku harus ngomong apaa??" batinku pada saat itu.
Aku dan keluargaku tidak seperti keluarga-keluarga lain yang terbuka, yang bisa membicarakan berbagai hal tentang hidup. Hatiku kaku, lidahku kelu. Terbesitlah ide untuk membawa bibiku, karena aku cukup dekat dengan bibiku. Lalu kuminta bibiku datang pada saat nadzar nanti dan beliau mengiyakan permintaanku.
Namun pada hari H tiba-tiba bibiku "menganulir" kesanggupannya untuk menemaniku nadzar. "Ah, gimana iniii?" deg, deg, deg, batinku panik sekali. Pada akhirnya aku mengajak satu sahabat untuk menemani, walau dengan resiko, dia dan sang murobbi mungkin akan menganggap aku kurang serius karena tidak membawa anggota keluarga pada urusan penting seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi?
Nadzar pun berlangsung sesuai rencana. Bertalu-talu kencang jantungku, beberapa langkah lagi aku akan bertemu dengannya. Aku dan sahabatku tiba di meja dan kursi yang telah dia siapkan. Kami duduk berdampingan melekat pada tembok, sementara dia dan sang murobbi duduk berhadapan. Dia duduk di sebrang sebelah kananku.
Pandangannya tegak menatap lurus hanya untuk mengobrol dengan sang murobbi. Selebihnya ia hanya menundukkan kepala. Mungkin ada tengokan-tengokan yang tidak begitu aku sadari saat itu. Namanya juga nadzar, bukan? hehe
Aku pun sesekali menengok melihat wajahnya. Wajah yang hanya kulihat saat sedang rapat komunitas, wajah yang hanya kuperhatikan saat ada tugas-tugas yang harus dia sampaikan. Dan, wajah yang mungkin akan terus aku lihat untuk seumur hidup nanti. Mukanya yang bulat, matanya yang berkacamata, kulitnya yang putih lebih putih dari kulitku terlihat beraura di bawah sinar lampu kafe kala itu, bahunya yang tegap, baju koko abu-abunya, tangannya yang memegang gawai, begitulah gambaran dia yang terpatri dalam ingatanku.
Di antara banyaknya percakapan saat itu, satu hal yang aku ingat hingga hari ini, saat aku menyampaikan bahwa "Hari ini, di hari nadzar kami sedang ada aksi yang ingin sekali saya ikuti, namun orangtua tidak mengizinkan. Alangkah senangnya jika Akang kelak bisa menjadi suami yang pengertian, suami yang bisa mendukung kegiatan saya, suami yang tidak banyak melarang ini dan itu apalagi dalam kegiatan yang mengandung kebaikan-kebaikan."
Murobbi menyampaikan bahwa sebenarnya jika bukan karena ada nadzar yang menurut dia lebih penting ini, dia sesungguhnya sudah berniat akan mengikuti aksi yang saya maksud. MasyaaAllah. Mendengarnya, meleleh hatiku. Dengannya, aku selaras, sehati, dan satu tujuan. Selepas nadzar kami berpisah namun sama-sama menuju masjid tempat komunitas kami sedang menyelenggarakan kajian.
Kami sepakat untuk melanjutkan ta'aruf ini ke jenjang yang lebih serius yaitu perkenalan dengan masing-masing keluarga. Pertama-tama dia akan bertamu ke rumahku mengenalkan diri kepada orang tuaku. Karena sama-sama kerja, kami memutuskan untuk melakukannya di malam hari. Habis Isya dia bertamu ke rumahku, sendirian. Dengan menenteng plastik makanan, dia berjalan di belakangku.
Setibanya di rumah, "Assalaamu'alaikum" ucapnya. Haah, aku tidak bisa mengendalikan diri, badan rasanya panas dingin, dadaku bergemuruh tak karuan, dapur tempatku bersembunyi sambil mondar-mandir sebab tak enak duduk dan hanya diam.
Lalu orangtuaku memanggil supaya aku ikut mengobrol. Dapat kulihat ketika dia mengobrol dengan orangtuaku dia begitu gugup sampai-sampai keringat muncul di dahinya. Sementara aku duduk memeluk lutut, sambil masih deg degan tak karuan. Kalau diingat-ingat kok ga sopan ya duduknya kaya gitu, hehe. Tapi pada saat itu aku tidak sadar.
Beberapa hari kemudian sang murobbi menganjurkan kami untuk membahas terkait walimah ini di grup. "Kalian ingin walimah yang bagaimana?" tanyanya. Percapakan di grup tentang walimah ini jujur aku lupa bagaimana pembahasan awalnya, tetapi yang aku ingat kami sama-sama menginginkan walimah yang sederhana saja.
Untuk mendefinisikan "walimah sederhana" ini, aku menawarkan kepadanya apakah mau diadakan di halaman rumah saya namun memang areanya kurang luas, atau mau menyewa gedung saja. Aku sampaikan barangkali dia mempunyai banyak keluarga dan sanak saudara yang perlu dijamu dengan lebih baik, karena aku tidak tahu kondisinya. Aku takut jika sederhana menurut standarku akan membuat dia dan keluarganya malu, karena standar sederhana kami yang berbeda.
Namun respon yang dia tunjukkan atas ucapanku nampaknya kurang baik. Dia menjelaskan bahwa dana tabungan yang ia siapkan mungkin tidak cukup untuk menyewa gedung. Dia keberatan, mungkin juga terbersit di pikirannya bahwa aku menginginkan walimah tersebut diadakan di gedung, yang mana dia belum sanggup. Tapi, bukan itu maksudku.
Di saat percakapan tentang pernikahan itu terus berlanjut. Ada gejolak di hati. Yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Rasa takut. Aku ketakutan.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar