Langsung ke konten utama

Sebuah Kisah: Badan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Periode 2012-2013

Selamat malam dan selamat berjumpa kembali dengan saya Renata Azhari barbie thumbellinaaaa tralala trililiiii ... haha haha
Oke, pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan menceritakan suatu kisah haru (menurut saya tapi, haha jadi jangan protes yah).

Saya pernah mengikuti suatu organisasi tingkat fakultas yaitu Badan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran atau biasanya disingkat menjadi BPM Gama FIB Unpad, periode 2012-2013.



Mulanya, pada bulan-bulan awal perkuliahan saat masih menjadi mahasiswa baru, saya tergabung dalam sebuah kepanitiaan, namanya "Khitanan Massal Kabim Unpad". Kegiatan khitanan massal ini dilaksanakan di luar kawasan Jatinangor di mana kampus kami berada. Di sana saya jadi logistik, tapi pada kenyataannya saya mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan, termasuk menjadi pemandu peserta khitan di suatu kantor desa/kecamatan. Satu persatu peserta khitan saya panggil melalui mikrofon. Sambil menunggu giliran memanggil peserta selanjutnya, saya didatangi oleh seorang laki-laki asing tapi jika dilihat lagi, dia memakai kaos yang sama dengan saya yang berarti bahwa dia juga termasuk sebagai panitia khitan ini. Kami sedikit mengobrol tentang identitas masing-masing. Ternyata laki-laki di hadapan saya adalah mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) juga. Namanya Dede Rosana, jurusan Sastra Jepang angkatan 2011. Setelah dirasa cukup, kang Dede menawari saya untuk menjadi anggota setjend di BPM. Katanya kita (kang Dede anggota BPM) sedang membutuhkan anggota setjend. Setelah mendengarkan pemaparan singkat akhirnya saya menyetujui tawaran kang Dede.

Dede Rosana


Beberapa hari kemudian saya dikasih info akan ada perkumpulan BPM di sekretariat BPM di student center lantai dua. Bermodal keberanian dan sedikit tekad, saya berangkat dari kosan ke kampus demi menjunjung calon 'keluarga' masa depan. Sebelum sampai di kampus saya bertemu dengan kang Dede. Katanya, dia masih ada perlu jadi tidak akan ikut perkumpulan kali ini, tapi setelah memasang wajah memelas, kang Dede yang hendak pulangpun sedia mengantar saya sampai sekre BPM.
Di sekre BPM, saya seperti ikan mas kecil yang tersesat di danau. Orang asing dan tempat yang tak kukenal. Hatiku ciut. Rasanya deg-degan dan malu. Tapi, alhamdulillah saat itu aku bisa melewatinya dengan lumayan baik.
Setelah pertemuan yang kesekian, saya terpilih menjadi pengurus keuangan internal BPM. Saya mulai menjalankan beberapa tugas seperti menagih uang kas, belanja untuk kantin kejujuran, dan sebagainya.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, sangat amat bersyukur dan amat sangat bersyukur (KO DIULANG-ULANG?? haha).
Semua orang asing itu berperan dengan sangat baik di sekeliling saya. Mulai dari ketua, wakil ketua, teman-teman se-setjend dan teman-teman anggota BPM itu sendiri sangat memaklumi dan mendorong saya untuk lebih mampu menjalankan tugas saya dengan baik.
Meski terkadang saya jarang ikut rapat umum, hehe, tidak ikut kegiatan di luar juga misalnya upgrading atau foto bersama, hehe, hehe, hehe. Tapi dalam waktu yang terbilang singkat, dalam keadaan yang tidak saya sadari, dalam perasaan yang tidak menentu, setelah tanggungjawab tuntas diemban, saya baru sadar, bahwa mereka, orang-orang asing itu, adalah keluarga tersayangku, senior-senior terkasihku dan teman-teman terbaikku.

Seolah baru terlahir 'lagi' ke dunia, saya sangat bahagia dan tak pernah berhenti bersyukur jika mengingat kenyataan bahwa, saya dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang begitu damai dan harmonis. Ada bapak dan ibu (ketua dan wakil ketua) yang sangat bijaksana dan mengayomi kami. Ada kakak-kakak yang peduli dan perhatian. Ada saudara-saudara yang selalu berbagi tawa. Dan, rumah (sekre) yang selalu menghangatkan hati.


Mifriz (ujung kiri atas; ketua setjend yang paling top), Hanif (kedua kiri atas; teman yang ramah dan lucu), Mas Kusrianto (tengah paling atas; senior paling asik diajak ngobrol), Himawan (kedua kanan atas; selalu memanggilku Teh Renata, padahal jelas dia lebih tua daripadaku haha), Teh Ditta (ujung kanan atas; agak galak tapi baik ko), Teh Ami (ujung kiri tengah; hehe kurang tau, Teh Ami jarang keliatan), Teh Wulan (kedua kiri tengah; senior perempuan paling dekat denganku), Yeni (kedua kiri tengah; teman seangkatan teman se-setjend yang paling dekat), Teh Disa (ketiga kanan tengah; teteh ekspresif yang ramah sekali), Teh Indri (kedua kanan tengah; teteh yang lemah lembut sekali), Teh Mona (ujung kanan tengah; jarang keliatan), Al (ujung kiri bawah; paling rempong tapi ngasikin banget kalau ada), Teh Imeh (kedua kiri bawah; Ibu keluarga besar BPM 12-13), Teh Kiki (kedua kanan bawah; teteh cantik yang baik dan ramah) dan Kang Ridwan (ujung kanan bawah: Bapak kita semua)



Upgrading yang tidak sempat saya ikuti.
(Kiri atas: Mas Kus, Hanif, Himawan, Teh Kiki, Teh Imeh. Kiri bawah: Kang Ridwan, Teh Ditta, Indah, Mifriz)


Arboretum
(Kiri atas: Kang Dede, Kang Danu, Teh Indri, Teh Ditta, Mifriz. Kiri bawah: Teh Wulan, aku, Yeni, Teh Imeh, Kang Irman. Pegang bendera BPM: Kang Ridwan)



Oh iya, mau sedikit membocorkan rahasia, hehe. Di antara semua anggota BPM ada yang sangat aku kagumi atas jiwa kepemimpinannya, atas kekritisan berpikirnya, atas kebesaran hatinya dan masih banyak lainnya. Dalam pandanganku, dia adalah seorang pemimpin yang sangat brilian dan menyenangkan (meskipun jarang berinteraksi dengan dia hehe). Sampai sekarang saya masih menganggapnya sebagai sosok pemimpin ideal yang penuh rasa tanggungjawab. Sepertinya saya baru pertama kali menemukan pemimpin yang begitu 'baik' seperti 'beliau', hehehe. Pada suatu waktu kita pernah mengadakan acara, kita disediakan masing-masing satu kertas. Aku ingat sekali, ada seseorang yang menggambari kertas punyaku dengan gambar awan yang mempunyai wajah dan gigi-gigi lalu di samping kiri gambar tersebut ada tulisan kira-kira isinya: jangan takut sama senior, ga gigit ko. Itulah pesannya. Berkat rasa penasaran siapa yang nulis itu, aku ingat-ingat ke mana arah kertas bergulir, eh ternyata ketahuan kalau yang menggambar awan bergigi itu Kang Ridwan hahaha aku pengen ketawa asli, orang se-serius Kang Ridwan beneran iseng buat begituan. hehehe tapi entah itu benar Kang Ridwan atau tidaknya, saya tidak tahu, yang penting, saya mau mengucapkan terima kasih, karena sudah membuat saya tertawa. Tapi, saya juga agak ragu Kang Ridwan yang nulis itu, soalnyaaaa, tulisan Kang Ridwan itu setahu saya kurang (ingat! hanya kurang! bukan jelek, hehe) bagus, hehe. Tulisan di kertas saya rasanya termasuk lumayan bagus. Yah, wallahualam. Mungkin tulisannya berubah-ubah atau mungkin saya lupa lagi hehehe :D


Nih Kang Ridwan Sama Kang Hilmy

Sekolah Legislatif 2013 yang diadakan oleh BPM Gama FIB Unpad 2012-2013 di Villa Cibingbin.



Yah! Cukup sekian dan terima kasih.

A: Penutupan apaan ini -_-
B: Woy! Nulis yang bener kek!
C: Mana penutupannya??
D: Udah gitu aja??
E: Are you kidding me??

R: Bicik woy protes mulu! Mau bobo nih :3

A, B, C, D, E:   -_-"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ideologi Organisasi Pergerakan Pada Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942)

Pendahuluan             Pergerakan nasional di Indonesia bermula pada sekitar tahun 1900 sampai tahun 1942. Banyak faktor yang menyebabkan terlahirnya pergerakan nasional. Secara garis besar, pergerakan nasional merupakan refleksi atas kebijakan-kebijakan yang keluar di Belanda berkat beberapa kecaman seperti yang dilontarkan oleh Douwes Dekker dalam novel Max Havelaar nya maupun oleh Theodore van Deventer dalam artikel “ Een Eereschuld ”nya. Kebijakan-kebijakan tersebut berupa politik etis dengan tiga poin utama yang akan diterapkan di wilayah jajahan Hindia Belanda, yaitu pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Ditambah dengan kemenangan kaum liberalis di parlemen Belanda, yang akan turut serta mempengaruhi kehidupan di Hindia Belanda. Pergerakan nasional itu sendiri digagas oleh para kaum intelektual dan kaum priyayi baru. Menurut Sartono Kartodirdjo, apa yang disebut dengan kaum intelektual atau kaum priyayi di atas adala...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Mencari Jawaban

Cerita Sebelumnya Di saat percakapan tentang pernikahan itu terus berlanjut. Ada gejolak di hati. Yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Rasa takut. Aku ketakutan. Setelah kunjungan dia ke rumahku malam itu, perasaan takut mulai muncul dalam hatiku dan semakin hari rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang aku takuti? Sungguh sangat membingungkan, tapi kenyataannya perasaan takut itu nyata bercokol di dalam dada. Apakah aku takut kepada laki-laki? Tidak. Selama ini aku berinteraksi dengan banyak laki-laki, dengan anggota keluargaku, dengan rekan kerja di tempatku bekerja, dengan tetangga, dengan bapak-bapak pedagang jalanan, dengan aa aa di pom bensin, dengan teman-teman di komunitas. Aku oke. Apakah aku takut karena pernah disakiti hatinya oleh laki-laki? Tidak juga. Patah hati itu hal biasa, bahkan aku masih senormal-normalnya wanita yang menyukai laki-laki, walau perasaan sudah jungkir balik berkali-kali. Pun tidak pernah disakiti fisikku oleh lak...

Yang Tertulis Namun Tak Tercatat: Ta'aruf Pertama

Cerita ini dimulai saat aku sedang bergabung dengan salah satu komunitas agama di kota tempatku berada. FYI, di komunitas tersebut ada ketua, wakil ketua, ketua divisi, dan anggota divisi. Aku adalah anggota divisi Media Informasi yang tugasnya membuat desain poster kajian, mendokumentasikan kegiatan, dan ikut membantu apapun yang bisa dikerjakan di komunitas. Suatu hari, dua sahabatku bertanya dengan ekspresi dan nada serius, "Teteh udah siap nikah belum?". Saat itu aku menjawab, "InsyaaAllah siap, Ma". Kemudian dia mengutarakan maksud pembicaraannya bahwa ada seseorang yang mau mencoba ta'aruf denganku, anggota komunitas, ungkapnya. Setelah ditelisik, " Ooh ternyata diaa " batinku, " Ketua divisiku sendiri wkwkwk ". Kudengar bahwa lelaki ini sedang mencari calon istri. Awalnya dia mencari ke sana kemari namun masih bingung mau coba ta'aruf dengan siapa, oleh temannya disarankan lah kenapa jauh-jauh mencari ke sana kemari, coba aja dulu ...